Assalamu’alaykum Warrahmatullahi Wa Barakaatuh.
Qur’an Surat Al-Furqaan (25) ayat 2:
“Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya)”.
Di dalam Rukun Iman, kita kenal ada Lima (5) Perkara yaitu:
1. Iman Kepada Allah
2. Iman Kepada Malaikat Allah
3. Iman Kepada Kitab-kitab Allah
4. Iman Kepada Nabi & Rasul-Rasul Allah
5. Iman Kepada Yaumil Qiyamah
6. Iman Kepada Qadha & Qadar.
Definisi IMAN adalah Ketetapan Hati, Ucapan dan Tindakan, yang lebih lanjut diartikan dan dipahami sebagai Ketetapan Hati yang menggema menjadi seluruh Ucapan dan berlaku menjadi seluruh Perbuatan. (Ibnu Majaah)
Dari definisi tersebut di atas, jelaslah bahwa IMAN bukan sekedar Percaya, karena, jika hanya percaya maka aspek yang terlibat di dalam Iman tersebut baru berada pada aspek Hati, dan belum menyentuh wilayah Ucapan dan Tindakan.
Muslim yang jeli, cerdas dan berfikir pastilah ingin lebih lanjut memahami IMAN tersebut sebagai sesuatu yang Sangat Berarti, ketimbang memahami Iman sebagai Percaya dan tidak berbeda samasekali dengan pemahaman Yahudi dan Nasrani.
Buku-buku yang ada tersebar di Indonesia sudah berurat berakar di kehidupan Pola Pikir Umat Islam yang menyatakan bahwasanya IMAN adalah PERCAYA, sehingga dengan mudahnya orang yang dangkal dasar pola piker dan pemahamannya menyatakan Iman sebagai sesuatu yang tidak memiliki MAKNA yang BERBOBOT.
Bobot Iman seseorang sangat ditentukan oleh dasar pemahamannya dan terbentuknya Pola Pikir yang tangguh berdasarkan Wahyu dan Sunnah Rasulullah.
Al-Imaanu Yazid wa Yanqush, Iman (seseorang) itu adakalanya Turun dan adakalanya Naik.
Kalau seseorang memaknai IMAN sebagai PERCAYA, maka, orang ersebut akan memahami QUR’AN & SUNNAH RASUL hanya dengan Perasaan saja yaitu PERCAYA, Dan Tidak pernah menyentuh wilayah Ucapan dan Tindakan, maka terjadilah ‘pembiasan’ pola piker terhadap Ajaran ALLAH SWT, yaitu Al-Qur’an .
Berangkat dari prosesi pembelajaran bahwasanya IMAN dadalah bentuk sinergi dan integrasi dari Hati, Ucapan dan Tindakan, maka, dapat dipastikan, seorang MU’MIN adalah orang yang selalu ADIL dan JUJUR dalam bertindak, karena HATINYA, UCAPANNYA dan TINDAKANNYA selalu selaras dan harmoni, maka terciptalah INSAN yang KAMIL, IHSAN dan MU’MIN.
Pemahaman yang baik dan benar tentang IMAN, akan membawa seseorang Muslim memiliki Pola Pikir yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi atau termakan hasud dari dan oleh siapapun. Dari sinilah secara cerdas, kita dapat memahami QADHA dan QADAR dengan Kacamata IMAN yang Baik dan Benar.
Qadha adalah Kepastian ALLAH
Qadar adalah Rancangan ALLAH
Qadar & Qadha selalu bergandengan, karena secara bahasa, RANCANGAN dan KEPASTIAN dari ALLAH.
Qadruhu khairuhu wa Syarruhu Minallah….Rancangan (Taqdir) Baik maupun Buruk adalah berasala dari ALLAH (Ciptakan).
Jadi, secara bahasa Indonesia, agar dapat dipahami oleh Muslim Indonesia, Taqdir (Qadr) adalah Rancangan dari Allah dengan Qadha (Kepastian) yang saling berhubungan.
Allah MERANCANG bahwa, Tumbuhan yang di sirami air dan ‘dirawat’ akan memiliki KEPASTIAN tumbuh subur yang pada akhirnya tumbuh bunga dan berbuah.
Allah telah merancang kehidupan (budaya) manusia, contoh jika manusia tersebut melakukan Rancangan berbuat Sesuai AJARAN ALLAH, maka KEPASTIAN nya ia akan memperoleh JANNAH, dan sebaliknya, jika manusia tersebut ‘merancang’ kehidupannya bukan dengan AJARAN ALLAH, maka kepastiannya dia akan memperoleh Kehidupan JAHANNAM.
Rancangan Allah: Bertemunya Sel Telur (Ovum) dengan Sel Sperma dari jenis / spesies yang sama, maka KEPASTIAN nya adalah akan terjadi pembuahan, kemudian dilanjutkan dengan proses berikutnya seperti, terbentuknya segumpal darah, tulang, daging, kulit dan lain sebagainya hingga lahirnya seorang bayi ke atas muka bumi ini.
Demikianlah sekilas sederhana tentang pemahaman Qadha dan Qadar dalam Rukun IMAN.
Wallahu a’lam
SHW